Perempuan Manggarai dan Belis

19
24302
floresmuda

*) Flafiani Jehalu

Dalam masyarakat Manggarai terdapat kebiasaan Belis. Kata “Belis” adalah istilah dari budaya Manggarai yang tidak dapat dipisahkan dari adat istiadat dalam proses perkawinan. Belis merupakan seperangkat mas kawin yang diberikan oleh anak wina (keluarga mempelai laki-laki) kepada anak rona (keluarga mempelai perempuan).

Belis dapat berupa hewan (babi,kambing,kuda,sapi,dan kerbau) dan uang. Namun,warisan yang mahaluhur itu (Belis) kini mendapat sorotan tajam dari banyak pihak. Belis berupa uang saat ini menjadi sebuah bentuk “penjajahan” baru dalam dunia perkawinan.

Perempuan dan Uang

Keluhuran dan kebernilaian manusia menjadi sebuah persoalan bagi sebagian masyarakat Manggarai. Dalam persoalan belis,perempuan seakan disuboordinasikan,harkat dan martabatnya sebagai manusia seolah-olah diperdagangkan. Perempuan Manggarai dinilai dengan ratusan rupiah. Singkatnya bahwa perempuan disejajarkan dengan rupiah.

Di Manggarai, cinta, sayang, dan ketulusan bukan menjadi modal utama bagi calon pengantin untuk bersanding di pelaminan. Hal yang diprioritaskan adalah uang. Uang tersebut diserahkan oleh pihak anak wina kepada anak rona melalui tongka (juru bicara) masing-masing pihak.

Angka rupiah yang disebut sebagai belis tidak hanya berkisar pada puluhan juta saja, tetapi ratusan juta rupiah. Hal ini tidak jarang mengakibatkan adanya perselisihan di antara tongka yang berujung pada penundaan ketetapan belis.

Belis seakan bukan lagi menjadi nilai yang luhur melainkan menjadi hakim bagi para calon mempelai. Keluarga pria (anak wina) harus membayar uang kepada pihak perempuan (anak rona). Uang yang diberikan pihak laki-laki seakan-akan menjadi biaya ganti rugi kepada orang tua perempuan yang telah membiayai si perempuan untuk bersekolah (maksud terselubung dari belis).

Nominal yang diberikan melebihi biaya yang dikeluarkan oleh orang tua perempuan. Persoalan ini menjadikan orang Manggarai sebagai “penjajah” baru di tengah dunia yang sudah modern ini. Hal ini juga menjadi bentuk dari proses memiskinkan manusia Manggarai.

Bagaimana tidak, seorang laki-laki dipaksa keluar dari zonanya dalam arti mencari tambahan uang bilamana tuntutan dari keluarga perempuan melebihi nominal yang telah disediakan. Maka terjadilah pinjam meminjam. Terkadang biaya belis memutuskan relasi pria dan wanita. Keterputusan ini disebabkan oleh nilai nominal yang terlampau tinggi.

Namun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa belis merupakan salah satu warisan budaya yang bernilai. Belis merupakn tanda pengakuan akan tingginya dan bermartabatnya seorang perempuan. Kebernilaian nilai dan martabat perempuan, kini, telah dirampas oleh dinamika kehidupan dunia yang serba konsumeri.

Anak perempuan dijadikan sebagi batu loncatan untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Kebermaknaan perempuan sebagai manusia yang bermartabat seolah-olah di geser oleh nilai rupiah. Nilai rupiah menjadi ajang untuk meningkatkan prestise orang tua. Juga belis yang ada di kalangan masyarakat Manggarai disandingkan dengan kekuasaan,prestise,dan kedudukan. Anak perempuan dijadikan tolak ukur bagi kondisi ekonomi sebagian masyarakat.

Perempuan Manggarai diperdagangkan layaknya komoditas. Kondisi ini amat sangat memprihatinkan. Belis  dikalangan masyarakat Manggarai ynag terlampau tinggi menyebabkan kesenjangan antara yang miskin dan kaya.  Perempuan layaknya benda yang diperjual-belikan di pasar.

Prinsip “siapa cepat dia dapat, siapa yang berduit maka dialah yang dapat mempersuntingkan si perempuan” menjadi gambaran nyata yang dapat menjawab sekaligus menggambarkan kodisi sosial sebagian masyarakat Manggarai. Praksis masyarakat Manggarai tidak hanya memiskinkan,tetapi sebagai sebuah bentuk perdagangan terhadap kaum perempuan.

Kenyataan ini menodai nilai luhur belis dan menjadi sebuah kejahatan moral yang sistematis. Posisi perempuan dan martabat perempuan direduksi. Perempuan menjadi barang dagangan. Situasi dan kondisi yang serba akut ini menjadi titik loncat menilai dan memaknai kembali martabat manusia.

Martabat Manusia

Pada hakekatnya,perempuan dan laki-laki adalah sama. Perempuan dan laki-laki adalah pribadi yang memiliki martabat luhur. Keluhuran martabat itu didasarkan pada kodratnya sebagai ciptaan yang luhur. Perempuan dan laki-laki adalah ciptaan yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Manusia diciptakan “menurut gambar Allah”; ia mampu mengenal dan mengasihi penciptanya;…. Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah,dan memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat (GS 12).

Keserupaan manusia dengan Allah menempatkan manusia pada tataran yang lebih tinggi dari pada ciptaan lainnya. Manusia dimahkotai dan dianugerahi kemampuan untuk berpikir (rasio). Kemampuan berpikir memampukan manusia untuk dapat memaknai hidupnya dan mengenal dirinya sebagai pribadi yang bernilai pada dirinya. Dengan alasan itu maka manusia adalah pribadi yang bermartabat luhur.

Perjuangan bagi keluhuran martabat adalah perjuangan bersama. Berkenan dengan ini praksis yang sedang marak membumi di Manggarai harus dikritisi dan dilihat kembali, tetapi tidak harus diabaikan. Hal ini didasari pada kenyataan bahwa manusia adalah pencipta kebudayaan.

Di seluruh dunia makin meningkatkan kesadaran akan otonomi dan tanggung jawab; dan itu penting bagi kematangan rohani maupun moril manusia. Kendati demikian,kebudayaan yang telah menjadi kebudayaan massa (mass culture) telah merombak sedemikian nilai yang terkandung dalam budaya belis.

Belis yang pada dasarnya merupakan sebuah bentuk penghargaan terhadap perempuan dipelintir. Belis menjadi sebuah ajang baru bagi upaya memperkaya diri (keluarga perempuan). Dengan itu,setiap orang wajib mempertahankan keutuhan pribadi manusia yang ditandai nilai-nilai luhur akal budi,kehendak,suara hati dan persaudaraan,yang semuanya didasarkan pada Allan pencipta yang seraya mengagumkan telah disehatkan dan diangkat dalam Kristus.

Oleh karena itu,umat beriman Kristenhendaknya bekerja sama supaya ungkapan-ungkapan kebudayaandan kegiatan-kegiatan kolektif yang menandai zaman kita sekarang, diresapi oleh semangat manusiwi dan kristiani (Gaudium et Spes). Dengan demikian kita menjadi saksi lahirnya humanism baru; disitulah manusia pertama-tama ditandai oleh tanggung jawabnya atas sesamanya ataupun sejarahnya (GS).


Alumna SMAK ST FRANSISKUS XAVERIUS RUTENG
sekarang sedang melanjutkan pendidikan lanjutan di Unika Atmajaya Jakarta

19 COMMENTS

  1. Saya perna jatuh cinta dengan cewek manggarai tetapi karena akibat belis akhirnya hubungan yang telah dibangun terpaksa berakhir. Sedih..

  2. Perempuan Manggarai dinilai berdarsarkan sttus sosial yg kadang membuat pria dari keluarga yg mampu yg dapat meminang. Sangat miris memang, melihat cinta seakan tidak bermakna.

  3. Hal ini juga masukkan buat pemerintah daerah manggarai.dikaji dulu lalu dibuatlah perda perkawinan.cocok sekali.hehehe…

  4. Kita bisa ambil nilai positif dari kebiasaan belis, misalnya seorang laki yang ingin melamar kekasihnya harus mempersiapkan diri dengan baik, minimal punya pekerjaan yang menjanjikan untuk menunjang rumah tangganya nanti dan bisa di ukur sejauh mana tanggung jawabnya sebagai calon kepala keluarga. Sedangkan untuk angka belis yang cukup tinggi, saya kira itu hanya sekedar angka yang tidak harus di lunasi semuanya, karena ada istilah dalam adat manggarai ( ai bom salang tuak, tetapi salang wae) artinya hubungan yang terjalin tidak hanya sesaat tetapi selamanya,,, justru yang paling ditekankan dalam kesepakatan belis adalah uang KEMBUNG(atau semacam uang untuk membiayai rangkaian acara adat maupun resepsi) serta hewan untuk resepsi misalnya babi atau kerbau(tergantung seberapa mewah acara resepsi yg kita inginkan). . . Hituy ata bae dakun lite,, tabe

  5. Sedikit menanggapi ase….budaya belis itu sebenarnya bukan dimaksudkan untuk mengganti rugi biaya sekolah yg telah ditanggung oleh orang tua si anak perempuan. Budaya belis sudah ada sejak dulu dalam budaya masyarakat Manggarai bahkan saat masyarakat belum bersentuhan dengan pendidikan (di sini belis yg digunakan biasanya hewan ternak). Jadi salah saat kita mengartikan belis itu sebagai ganti rugi. Maksud luhur sebenarnya dari belis ialah tentang pengorbanan dan kesetiaan. Belis itu tak ubahnya seperti pertanyaan ” apakah kau masih akan tetap setia bersama istrimu walaupun dalam keadaan susah dan miskin? “. Thanks…
    Btw…bagus tulisannya ase…salam unika !

  6. Sedikit mengomentari alinea yang tertulis “Nominal yg diberikan melebihi biaya yang dikeluarkan oleh orang tua perempuan. Kalimatnya menimbulkan ambiguitas terutama mensejajarkan uang dengan atau tidak berupa uang dengan kasih sayang, perhatian, cinta orang tua kepada anaknya. Jasa orang tua tidak bisa terbalaskan dengan apapun baik uang ataupun lainnya yang mencapai nilai puluhan atau ratusan rupiah. Saya tidak setuju kalimat di alinea itu kae. Seakan-akan terkesan orang tua dengan segala cara mencapai keinginan mereka demi anaknya agar suatu saat apa yg mereka korban diganti rugi dan ada bunganya.

  7. tulisan yang bagus dan kritis. sekirannya dari pihak perempuan manggarai juga mesti membangun gerakan menolak belis yang besar dan lebih memilih harkat dan martabat sebagai manusia. belis tetap ada tetapi tak harus sampai ratusan juta. wake up perempuan manggarai mari bekerja sama dengan kaum pria. kembalikan belis pada ranah semula.

  8. Sebuah kajian yg sangat bagus, terutama utk menata kembali sistem belis di manggarai yg makin membabi buta. Yang jadi korban adalah dua manusia yg saling mencintai antara putus atau tetap menikah tapi dengan terpaksa. Sebenarnya disini pihak gereja bisa berperan penting memberi pencerahan kepada masyarakat manggarai. Belis sebagai warisan budaya perlu dipertahankan, tapi nominalnya jangan sampai mengikuti perkembangan monoter. Artinya yang wajar dan diterima akal sehat. Tabe.

  9. Tulisan yg menarik….
    Pandgan sy ttg belis yg mrpkan slh stu prsyratan dlm perkawinan org manggarai itu memang suatu warisan nenek moyang yg hrus ttp dipethankan. Tapi, yg disygkan besar kecilnya jlh belis sat ini dssuaikan dgn tingkat pddikan. Semakin tinggi pddikanx, smkin besar pula belis yg diminta. Jelas trlihat bhwa belis tersebut sebagai pengganti bagi apa yg sudah dikluarkan org tua bgi anaknya.
    Namun, besar kecilx jlh belis itu dapat didiskusikan oleh kedua belah pihak….. setidaknya belis jangan sampai membebankan bagi pihak laki2….
    Krna stlh prnikhan msh byk lg acara yg jg mmbthkan uang. Slh stux misalx sida.

  10. Saya bukan org manggarai. Bapak org paga, sikka. Mama org onekore, ende. Besar dan tinggal di kutai timur, kaltim. Maaf sebelumnya. Belis atau mas kawin di daratan pulau flores, tradisi tersebut hampir sama dan berlaku utk semua suku.
    Saya berpendapat bahwa ini adalah sebuah warisan luhur dari leluhur, untuk mempererat hubungan kedua belah pihak ( pihak pria dan wanita ), hubungan cinta kasih pria dan wanita nya, serta hubungan sosial dgn handai taulan, sanak keluarga, karna saling berkaitan satu sama lain.
    Kalaupun ada pihak2 yg memanfaatkan tradisi ini utk memperkaya diri, ini adalah sebuah pemerkosaan terhadap nilai2 budaya.
    Nilai luhur yg saya maksud adalah musyawarah. Kita tentu sepakat musyawarah mengajarkan kita untuk melepaskan ke egoisan kita demi sebuah kesepakatan yg saling menguntungkan. Nilai luhur inilah yg diwariskan dan harus dijaga bukannya ditiadakan karna keserakahan segelintir manusia.
    Solusinya adalah lembaga budaya atau lembaga adat yg dibentuk dan diangkat oleh pemerintah. Lembaga ini memiliki dasar hukum yg dibuat berdasarkan kajian yg berangkat dari kesadaran guna menjaga nilai2 luhur warisan leluhur tsb.
    Sebagai penutup saya ingin mengingatkan kita semua sebagai sesama anak flores. Jati diri kita adalah tradisi.. jika kita membiarkannya dirusak atau hilang, maka kita kehilangan jati diri..terima kasih.

  11. Belis menurut pendapat saya merupakan tanda terima kasih dri keluarga laki2 terhadap keluarga perempuan yg telah membesarkan dan menjaga anak perempuan mereka dg baik hingga akhirnya siap utk meninggalkan org tua dan menjadi bagian dri keluarga lelaki yg akan memperistrinya.
    saya org manggarai campuran belu. Belis sekarang ini menjadi momok bagi setiap pasangan yg akan menempuh hidup baru.
    Tapi menurut pandangan saya sendiri besar kecilnya angka belis adalah harga yg masih bisa dinegosiasikan. Setahu saya belum ada org tua atau pun bagian dri anggota keluarga wanita yg menjadi kaya karena BELIS apalgi BELIS dianggap sebagai ganti rugi terhadap org tua selama membiayai pendidikan anak.
    pendidikan anak merupakan tanggung jawab org tua dan hal ini sama sekali tdk ada hubungannya dengan BELIS. Sekali lagi ini menurut pendapat dan pengalaman saya selama menjadi seorang anak.
    BELIS merupakan warisan kebudayaan yg diturunkan dari generasi ke generasi dalam setiap keluarga mangggarai (flores pada umumnya juga memiliki belis). Dulunya belis berupa hewan karena pada saat itu nilai uang sangatlah besar dan mayoritas masyarkat masih memiliki hewan ternak dalam jumlah banyak.
    sekarang Belis lebih banyak dihargai dg uang sebagai pengganti hewan. Tapi tentu saja tidak semuanya diganti dengan uang.
    Menurut saya martabat dan harga diri seorang wanita ada pada belis. Bukan berarti besarnya harga belis merupakan nilai harga diri wanita. Tetapi merupakan sebuah penghargaan kepada wanita dari lelaki.
    belis juga sebagai pengingat kepada kita bahwa menikah dan berumah tangga merupakan hal yang akan berlangsung sekali seumur hidup. Memilih wanita dan pria yang tepat untuk memjadi partner hidup. Karena dengan adanya belis setiap pria dan wanita bisa lebih menghargai keberadaan mereka dalam membangun rumah tangga.
    maaf klo comment saya melebar kemana2. Tpi sekali lagi comment yg saya berikan ini adalah menurut pendapat dan pandangan saya terhadap BELIS dan sesuai dg pengalaman yg terjadi disekitar saya.

  12. Belis dan Perempuan merupakan 2 kata yang berbeda tentunya, tapi diwarisi sejak leluhur, tugas kita saat ini adalah melanjutkan dan memperkuat budaya ini. Hal ini manurut saya ada nilai yang terkandung didalamnya yakni memperekat hubungan kedua rumpun keluarga juga menjadi kekuatan dalam mempererat hubungan manusia yang satu dengan yang lainya, selain itu terurai makna tanggung jawab dalam membangun keluarga. realitas saat ini Belis telah dijadikan sebagai ajang gengsi-gengsian antara kita yang menjalani budaya belis dalam adat istiadat perkawinan ini. Kriterianya terdiri dari :
    1. Berangkat dari keluarga Keturunan Bangsawan,
    2. Keluarga Pengusaha,
    3. Keluarga yang telah memiliki status pekerjaan PNS,
    4. Keluarga pejabat,
    4. Keluarga Yang berhasil menempuh pendidikan tinggi,
    5. Dll.

    Hal ini tentunya akan berpengaruh besar untuk berkompotisi sehingga nama besarnya tetap terdata dibenak orang. katanya ? walaupun belum tentu ……………..
    Pertanyaan mampukah kita meninggalkan komputisi ini, yang berdampak pada sesama kita yang tidak masuk dalam kriteria diatas ?

  13. Menarik tulisan tentang belis ini; salah satu bagian dari tradisi perkawinan di Manggarai (flores pada umumnya) tentang cara kelompok-kelompok, etnis, suku dan keluarga besar di berhubungan satu dengan lainnya.
    Perkawinan selain sebagai salah satu mekanisme membentuk ikatan keluarga baru; juga merupakan mekanisme rekonsiliasi ikatan keluarga; woe nelu; anak wina anak rona; baik dalam keluarga perempuan (wife giver; anak rona) maupun di dalam keluarga laki-laki (wife taker; anak wina). keluarga seorang anak laki-laki yang akan menikah akan mengumpulkan kembali dan meminta bantuan dan dukungan dari semua keluarga-keluarga besar, suku (garis patrilineal) yang pernah menjalin ikatan perkawinan dengan mereka; keluarga-keluarga yang pernah mengambil anak gadis dari keturunan mereka. Di Manggarai, mekanisme ini kita sebut dengan istilah Sida. Beban belis (bhs. M’grai; Paca) ini akan ditanggung bersama-sama oleh semua keluarga besar. Bahkan ketika satu keluarga yang kena sida merasa beban yang ditanggung relatif besar; keluarga tersebut berhak dan dapat membagi kembali beban sida tersebut kepada keluarga besar lain yang memiliki ikatan “woe nelu” dengan mereka; sehingga beban menjadi ringan. Bersyukur karena nenek moyang; ceki agu wura telah mewariskan mekanisme ini kepada kita orang Manggarai. Demikian pula pihak keluarga perempuan yang akan menikahkan anak perempuannya; pihak keluarga akan menghubungi keluarga besar keturunan patrilineal dari mana ibu anak perempuan itu berasal; bukan untuk menanggung beban paca; tetapi untuk menjadi saksi dan karena itu akan menerima bagian dari “paca” yang diterima. Dalam konteks hubungan antar keluarga dan suku; Belis perlu dilihat juga dalam konteks kerjasama, saling dukung dan semangat untuk tetap melestarikan hubungan baik antar keluarga besar;
    “Eme ba do ise situ, ai te gerak ranga dite tau’ng…” (kalau bawaannya banyak; karena untuk cerah wajah kita semua”); salah satu ungkapan tentang makna Paca ini. Sehingga Paca perlu juga dilihat dalam konteks kebersamaan, persatuan, kerjasama, keeratan hubungan keluarga-keluarga besar; tidak saja dilihat dalam konteks ekonomis; nilai rupiah. Sehingga pada era dengan ikatan-ikatan keluarga besar, suku yang semakin renggang ini; tentu beban belis/paca akan semakin terasa; apalagi kalau hanya ditanggung keluarga inti atau bahkan anak laki-laki itu sendiri (istilah Manggarai; Kraeng Kope). Sudah seharusnya upaya-upaya mempererat kerjasama keluarga besar ikatan “woe nelu” terus ditingkatkan seiring meningkatnya kebutuhan ke depan. Bukankah mekanisme pesta sekolah telah menjadi bukti bagaimana kerjasama orang Manggarai mampu menghadapi tantangan biaya pendidikan dewasa ini?

  14. Sy setuju karena sy alami sendiri. Masa org tua si cewek sdh kaya minta lagi ke saya belis 250 jt.. Sementara sy dgn anaknya sdh berkeluarga dan sdh pnya anak. Tapi sy hnya bisa byr 100 jt itupun sy kredit Sisanya sy tdk mampu byr.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here