Floresmuda.com-Film Dokumenter “Tanah  Mama” karya sutradara Asrida Elisabeth, perempuan kelahiran Nanga Cibal Manggarai Flores Nusa Tenggara Timur akhirnya keluar sebagai pemenang untuk kategori film dokumenter panjang dalam Kompetisi Festival Film Dokumenter 2015 yang digelar pada 7-12 Desember baru lalu di Yogyakarta.

Sebagaimana dilansir dari situs FFD bahwa terdapat sebelas (11) film yang terdaftar dalam kategori ini, dari ke-11 film terdapat 3 film yang lolos yakni selain Tanah Mama sendiri, juga ada film Lelang Harga Sang Pemangsa, dan Harimau Minahasa.

Ketiga film ini, menurut panitia penyelenggara memiliki ritme yang berhubungan erat dengan struktur film. Cerita yang diangkat oleh ketiga film ini menarik untuk disimak, bagaimana sineas menjalin informasi yang mereka dapat untuk kemudian digunakan memenuhi premis-premis yang ditawarkan.

Dari berbgai penilaian berdasarkan kriteria digariskan akhirnya “Tanah Mama” keluar sebagai pemenang menyisihkan film Lelang Harga Sang Pemangsa, dan Harimau Minahasa.

“Untuk saya, kemenangan ini saya persembahkan untuk mama Halosina, mama-mama di Tanah Papua, juga mama-mama di seluruh Indonesia yang tiap hari tanpa lelah berjuang (bagi) keluarga. Baik atau buruknya kebijakan Pemerintah di negara ini, merekalah yang paling merasakan dampaknya” Demikian kata Asrida seusai menerima penghargaan seperti ditulis dalam akun facebooknya.

Film Tanah Mama sebenarnya menceritakan tentang seorang ibu bernama Halosina yang tidak hanya memperjuangkan hak-hak politisnya sebagai perempuan, tetapi juga hadir sebagai simbol tanah itu sendiri sebagai sebuah sumber daya public yang harus dipertahankan, dijaga dan dirawat.

Berikut linementa Tanah Mama “Tanah Papua merupakan tempat yang begitu berjarak dengan daerah lain di Indonesia walaupun Papua terkenal dengan tanahnya yang subur dan sumber mineralnya yang melimpah. Ironisnya, Papua juga terkenal dengan kehidupan masyarakatnya yang miskin dan perempuannya yang rentan dengan kekerasan”

“Mama Halosina adalah tokoh sentral dalam film ini. Seorang ibu, istri, dan perempuan Papua pekerja keras. Menghidupi diri dan empat anaknya yang ditinggal kawin lagi oleh bapak mereka, mama mengandalkan ubi dan sayuran hasil kebun. Bekerja seorang diri tanpa bantuan suami membuat ubi hasil kebun sendiri tidaklah cukup. Harapan akan dukungan keluarga suami berujung pada urusan denda adat yang harus dibayar mama di kampung. Mama berusaha menyelesaikan masalah denda itu, tapi kesulitan demi kesulitan harus dia lalui. Seperti ubi, tumbuh dan hidup dari tanah, begitu juga anak-anak, tumbuh dan hidup dari mama”

Para Pemenang adalah “Calon Mama”

Yang menarik dari Kompetisi Festival Film tahun ini bahwa semua pemenang Festival Film Dokumenter adalah Perempuan, para calon Mama. Sebagaimana ditulis Asrida dalam akun facebooknya ada Ima Puspita Sari (Wasis) kategori film pendek, bercerita tentang seorang tokoh pendidikan Zaman Orde Baru yang coba menghidupkan kembali jam belajar masyarakat di Jogjakarta.

Berikut ada Nur Hidayatul Fitriah (Korban Bendungan Manganti) untuk kategori pelajar, bercerita tentang petani korban bendungan manganti di Cilacap dan Asrida sendiri (Tanah Mama) kategori panjang, bercerita ttg perjuangan sehari-hari menjadi seorang perempuan, istri, mama dari Tanah Papua.

“(Saya merasa) senang (karena) cerita-cerita ini mendapat tempat” kata Asrida. Namun demikian Asrida berharap supaya Tanah Mama dapat didistribusikan secara maksimal agar menjangkau lebih banyak penonton.

“Distribusi film ini belum berjalan maksimal, semoga moment ini bisa menambah semangat untuk terus mencapai penonton yang lebih banyak lagi dan menjadi bahan refleksi bersama” katanya

Sedikit Tentang FFD 2015

Ringkasan FFD ini sepenuhnya dikutip dari siaran perss yang dikeluarkan panitia FFD 2015:

Beberapa tahun terakhir, antusiasme masyarakat untuk menonton film dokumenter bisa dibilang semakin meningkat. Hal ini tentu tak lepas dari semakin mudahnya akses terhadap film dokumenter. Keberadaan Festival Film Dokumenter (FFD) yang hadir tiap bulan desember di Yogyakarta ini pun dapat dipandang sebagai salah satu metode untuk mengakses film dokumenter. Rangkaian acara FFD ke-14 sendiri akan berlangsung di Kompleks Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dan IFI-LIP Yogyakarta.

Kompleks TBY akan menjadi venue utama dengan tiga tempat pemutaran yaitu Gedung Societet, Ruang Seminar, dan Amphitheater. Jika pada masa awal perkenalan bangsa ini dengan sinema, film dokumenter banyak dibuat oleh para petualang colonial eropa. Kini, sebagai bangsa yang mandiri, kita telah banyak memiliki generasi tangguh para pembuat film dokumenter. Pada pelaksanaan ke-14 ini, FFD tetap berkonsentrasi pada perkembangan film dokumenter Indonesia dengan mengusung 14 film dalam nominasi program  Kompetisi FFD 2015.

Untuk program Kompetisi, tercatat jumlah entry film pada tahun ini terbilang paling banyak selama 14 tahun sejarah festival. Sejumlah total 133 film terdaftar di tahun ini, dengan 11 film dokumenter kategori panjang, 96 film dokumenter kategori pendek, dan 26 film dokumenter kategori pelajar. Dari masa pengiriman bulan Mei yang ditutup pada akhir bulan September, 133 film ini kemudian melewati proses penjurian madya oleh dewan juri FFD.

Dari proses penjurian madya, sebanyak 14 film lolos dari ketiga kategori, dengan perincian 3 film dokumenter panjang, 6 film dokumenter pendek, dan 5 film dokumenter pelajar, dari 6 provinsi yang tersebar di seluruh Indonesia(DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Nangroe Aceh Darussalam). Keempatbelas film ini akan melewati tahap penjurian final pada tanggal 7-9 Desember 2015, dengan dewan juri panjang: Debra Zimmerman, JB Kristanto, dan Ronny Agustinus; dewan juri pendek: Chalida Uabumrungjit, Adrian Jonathan, dan Ifa Isfansyah; dewan juri pelajar: BW Purbanegara, Park Hye-mi, St. Kartono.

Film terbaik dari masing-masing kategori diumumkan pada Malam Penutupan Festival Film Dokumenter 2015, pada Sabtu, 12 Desember 2015, di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta.

Tema besar festival film dokumenter 2015 ini adalah Re-Defining. Re-Defining merupakan refleksi kita bersama (penonton, pembuat film, dan segenap insan perfilman) atas perkembangan film dokumenter Indonesia yang kian hari semakin semarak. Tema Re-defining sendiri sekaligus merupakan tema dari salah satu program non-kompetisi yakni program perspektif.

Tema ini mewakili bagaimana kini di tengah masyarakat, kita sebagai individu tengah sibuk mempertanyakan perkara identitas yang melilit kita, mulai dari lingkup pribadi yang kita bawa dalam sejarah dan memori, hinggal hal-hal yang terjadi di sekeliling kita yang saling bersinggungan dan secara tidak langsung turut memengaruhi kita dalam rangka mendefinisikan siapa diri kita.

Hal tersebut dapat berupa agama, status sosial, gender, dan banyak lagi. Bagi FFD, Re-Defining adalah upaya-upaya untuk mendefiniskan kembali keberadaan kita bersama dalam entitas global, sekaligus dalam semesta kehidupan sehari-hari, bersama keluarga dan komunitas sosial di sekitar kita. (Kris da Somerpes/Floresmuda.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here