*) Putra Niron

MILIK KITA

Tangan itu tak sanggup menepis lengan yang kuat,
Yang membopong paksa cita-cita dan menghapusnya
Dengan seonggokan lembar mulia.
Lengan kuat yang memasukkan tubuh lemah
ke mulut busuk berbau.
Kaki itu tak sanggup membawa tubuhnya sendiri pergi jauh,
Untuk meneriakkan luka pada harga diri yang disembelih.
Sentuhan lemah itu tak mampu meredakan nafsu dari hati
Yang memotong sehelai mimpi
dan membakarnya dengan cahaya berlian.
Hati penuh nafsu yang merendam tubuh lemah
pada lumpur dekil.
Bibir itu tak sanggup bergerak hingga datang bunyi
Untuk meredam nafsu dari hati.
Kita tak ada rasa?
Biarkan lengan berbalut lembar-lembar mulia menghabiskan
dengan lahap mimpi cita mereka?
Kita ada rasa?
Jika mereka juga seperti kita?
Kita merasa?
Derita mereka milik kita juga?

Maumere, 6 Desember 2014

UNTUK ANGELINE

Mata kecilmu belum penuh
Memasukkan dunia,
Yang keburu mengatupkannya.
Dan mata kami hanya berikan tetesan doa untukmu,
Agar tatapanmu abadi di sana.
Bibir mungilmu belum penuh
Rasakan ciuman dunia,
Yang cepat mengeratkannya.
Dan bibir kami hanya berikan darasan doa untukmu,
Agar senyum terukir di sana
Bagi mereka yang menghilangkanmu.
Tanganmu belum penuh
Dirangkul dunia,
Yang cepat memasungnya.
Dan tangan kami hanya menengadah untukmu,
Agar tanganmu tetap merangkul hati mereka.
Ini doa yang kami lantunkan untukmu.

Malaka, 18 Juni 2015

NAFAS UNTUK NEGERI

Hirupan semangat kedua lubang hidung
Menampung asa-asa kecil yang sedang asyik bermain
Dengan mainan kampung.
Diajak berlari di sekitar jantung
Sebelum  ia memompa darah untuk membasahi
Jalanan berdebu yang akan terlintas oleh jejak asa-asa kecil.
Tak sadar mereka menabrak air putih yang laju
Hendak menuju ke tempat menimbun hasil panenan sehari’
Mereka malah senang tersiram basah kecelakaan manis tadi
Malah mengolok tubuh yang belum sempurna tertimpa air
Belum selesai mereka tertawa, tabrakan terjadi lagi.
Dengan nafas yang laju hendak mengelilingi seluruh tempat
Yang pernah tersentuh dan akan tersentuh
Kaki-kaki asa kecil.
Dia merantau ke negeri asa kecil bermain.

Maumere, 28 Agustus 2014.

NEGERI TAK BERSUARA

Coba pasang kedua lubang telinga
Pada jalanan di sekitar.
Ada rintihan tak bernada
Tengah terdendang.
Ada tangisan tak bermusik
Tengah mengalun.
Rintihan dan tangisan dari bibir yang hanya beergerak
Sebentar tanpa menghembuskan angin
Malah tertelan ke perutnya
Coba pasang kedua bola mata
Pada jalanan sekitar
Ada keringat lelah tengah jajakan barangnya.
Ada keringat lain yang tengah tersapu oleh secarik kain kusut berdebu.
Keringat yang datang dari tubuh tersandar pada bibir penelan kata di negeri tak bersuara.

Ledalero, Agustus 2014


Putra Niron, sekarang berdomisili di wisma st. Agustinus Ledalero Maumere, Flores, NTT. Karya-karyanya hanya beredar di dunia maya, khususnya fabebook. Jika ingin menghubunginya bisa lewat account facebook dengan nama akun Putra Niron atau email: putraniron@yahoo.com.id; serta no. HP: 085339015443.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here