*) Kris da Somerpes

Jessica, demikian nama putri kecil yang lucu, berambut pirang, periang dan polos itu. Dia dilahirkan di Portugal dari pasangan suami istri yang akhirnya bercerai ketika usianya masih kecil. Ayahnya adalah seorang wartawan di wilayah yang sama sedang ibunya adalah Joanne Kathleen Rowling, seorang guru bahasa Inggris.

Selepas percereaian kedua orang tuanya, Jessica kecil bersama ibunya pindah dari Portugal dan menetap di Eidinburgh. Di sana Jessica tumbuh menjadi anak yang periang, lucu, cerdas dan polos suka menyendiri dan punya hobi berpetualangan. Namun, kepolosan dan kecerdasannya, tidak menyadarkannya kalau situasi ekonomi keluarganya berada dalam kesulitan.

Menjadi seorang janda tanpa penghasilan tetap, dan memiliki seorang anak yang masih seusia Jessica tentu menjadi beban tersendiri bagi J.K Rowling. Hari-harinya hidupnya di Eidinburgh selalu menjadi arena pertarungan antara harapan dan kenyataan, antara kebahagiaan dan air mata. Kekuatan satu-satunya adalah Jessica. Gadis kecil inilah yang selalu memberikannya motovasi untuk selalu berjuang dan kukuh menatap masa depan.

Dalam setiap kesunyiannya, J.K Rowling selalu mengajak putri kecilnya Jessica untuk bicara, bermain dan bercengkerama. Pada saat-saat tertentu Jessica diajaknya bagaimana memegang sapu lidi ketika membersihkan rumah. Tetapi Jessica yang nakal justru menunggangi sapu lidi dan berlari-lari sambil mengepakkan sebelah tangannya. Kadang, Jessica diajaknya untuk bermain bola, tetapi kenakalan si putri justru menjadikan bola volley menjadi bola sepak. Dan kadang-kadang Jesicca diajaknya untuk memasak, membuat adonan kue. Tetapi Jessica kecil membuatnya jadi berantakan membuat adonan jadi ramuan yang aneh.

Dari hati kecilnya yang paling dalam, J.K Rowling bangga punya anak yang lucu dan cerdas. Baginya, Jessica adalah simbol kekuatan. Satu-satunya harapan di mana kebimbangan dan kecemasan dipapah.

Lantaran itu, di ruang tidurnya J.K Rowling selalu mengkhayal dan bermegalomania tentang Jessica. Jessica putri kecilku, siapakah engkau. Boleh aku menamaimu Harri Potter, yah…keberikan nama itu untuk dia. Seorang laki-laki, simbol kekuatan.

Namun demikian, J.K Rowling punya satu ketakutan yang telah menjadi abadi tertanam dalam hatinya. Ada kecemasan laten yang selalu menghalang-halangi semangat perjuangannya. Ketakutan dan kcemasan itu adalah ‘kegagalan’. Kegagalan yang lahir dari pengalaman traumatis perceraian, kemiskinan dan kesendirian. Inilah kecemasan yang seakan-akan sulit untuk dicarikan jalan keluar. Sehingga persis ketika ia tersenyum menyaksikan kenakalan Jessica pada saat yang sama ia menitihkan air mata.

Lantaran itu, di ruang tidurnya J.K Rowling selalu mengkhayal dan bermegalomania tentang kecemasan dan ketakutan yang senantiasa menghantuinya. Di ruang khayalnya muncul nama-nama aneh, lantas munculah ‘Lord Valdemort’ yang menurutnya tepat untuk menamai segala kecemasan dan ketakutannya.

Pertanyaan lebih lanjut, kepada siapa pengalaman problematik tersebut dicurahkan. Lagi-lagi di kesepian ruang tidurnya, J.K Rowling menumpahkan semua kecemasan dan ketakutannya, kekuatan dan optimismenya dalam setiap lembaran catatan harian. Perjumpaan antara fakta dan buah khayal di sintesa dalam goresan pena yang tiada terpenggal. Pada catatan harian itulah J.K Rowling menuliskan kisahnya tentang pengalamannya di Eidinburgh. Dan Eidinburgh dikhayalkan sebagai semacam sekolah sihir di Hogwarts.

Di sana, kekuatan dan kelemahan dipertentangkan, kesombongan dan ketulusan dan diuji, kemenangan dan kekalahan dipertaruh, situasi dicipta, karakter dibangun, alur dilentur, mental-rasa diberi warna, rasionalitas didesak, sapu lidi, bola, adonan, pena dan buku dijadikan simbol kekuatan, J.K Rowling sendiripun jadi merinding…semua mata, segenap rasa, segala nalar diajaknya untuk mengarah pada satu titik sentral…membedah pertarungan abadi antara antara Harry Potter dan Lord Valdemort, antara kekuatan si putri Jessica dan kelemahan dirinya sebagai sang ibu yang takut gagal, antara dua sisi paradoksal manusia. Kekuatan-optimisme vs kegagalan-pesimisme.

Siapa dan apakah yang keluar sebagai pemenang? Dalam ruang tidur yang senyap, di hadapan lampu baca yang diam tetapi tetap membias sinar terang, J.K Rowling memandang Jessica yang sudah terlelap, dengan senyum mengembang sang bunda bergumam ‘luka di keningmu tidak berbekas, karena kegagalan sudah pergi’

J. K Rowling mematikan lampu baca, penanya dibiar tergeletak di sisi catatan harian. Dan ia pun tertidur lelap setelah menulis sepenggal kalimat yang selalu dikenang di setiap ruang khayal dunia ‘Harry Potter antara Ada dan Tiada’. Namun yang pasti, yang dapat dipetik dari si “Penyihir” ini adalah bahwa kita dapat memulai menulis dengan mengangkat fakta kecil keseharian, temukan konfliknya dan angkat itu ke ruang tulis setelah dilebur berulangkali oleh imajinasi. Yuk, nulis!


Kris da Somerpes, Sekarang sedang belajar menulis pada Komunitas Kopi Sastra Akhir Bulan Labuan Bajo Manggarai Barat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here