*) Eugen Sardono

Budaya meniru sudah menghipnotis keseharian setiap kita, termasuk saya dan anda. Kita  bahkan merasa nyaman dengan itu. Iklan dan promosi berada di posisi paling depan sebagai senjata.  Kalau iklan mempropagandakan bahwa wanita cantik itu harus memiliki rambut lurus, putih dan sederetan kriteria lainnya, maka, sudah hamper pasti akan menjadi ukurannya. Maka tak urung lagi, kita dengan segala cara mempercantik diri dengan bertitiktolak pada ukuran iklan dan propaganda.

Kalau dalam opini publik, kualitas kegantengan pria dari penampilan dan kekayaannya. Pria yang ganteng itu berarti pria yang gentle, pria yang memiliki HP serba baru, dan bermotor. Ke-gentle-an diukur dari penampilan hariannya. Pria yang normal harus merokok. Orang yang tidak merokok tidak disukai perempuan karena tidak gentle.

Dalam bidang politik pun demikian, Indonesia harus banyak meniru sistem politik dan demokrasi asing. Sisi Ekonomi, barang-barang barang-barang import banyak digandrungi. Demikian juga dengan identitas diri, semisal tanah. Tanah pun digadai dan bahkan dijual. Semuanya karena iklan. Dan agar tak ketinggalan cerita terkini.

Indonesia harus mengubah diri dalam tatanan hidup. Menarik sekali ketika kita melihat realitas yang terjadi. Itu semua sudah biasa dan latah terjadi. Dominasi budaya luar merubah juga cara, perilaku dan tutur keseharian kita. Manusia yang tidak bisa mempertahankan aspek kedirian, tetapi kedirian itu dijual oleh sebuah takaran ukuran yang berasal dari luar.

Opini publik mengekang kebebasan diri. Opini publik mengikat diri pada sebuah kehilangan warna kedirian. Tidak mengherankan bahwa orang sudah tidak bisa lagi mengenal sungguh diri mereka. Kalau ditanya siapakah kamu, mungkin dia bisa menjawab, menurut mereka aku adalah bla…bla…bla…bukan menurut penilain dirinya.

Pertautan pribadi dengan sebuah budaya baru urgen. Pertautan berarti membandingkan, mensandingkan segala sesuatu. Budaya baru difilter sedemikian rupa sehingga sungguh bisa memilha mana yang baik dan mana yang seolah-olah baik. Kebanyakan banyak ‘seolah-olah baik, padahal tidak baik.

Orang yang pertama kali merumuskan definisi kebudayaan menurut Effendhie (1999: 2) adalah E.B Taylor (1832 – 1917), guru besar Antropologi di Universitas Oxford pada tahun 1883. Pada tahun 1871, E.B Taylor mendefinisikan kebudayaan sebagai berikut: “Kebudayaan adalah mencakup ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan, serta kebiasaan-kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat”.

Membudayakan hati dan nalar menjadi fokus utama. Budaya dari luar banyak yang masuk, hampir tak bisa dibendungi lagi. Orang tidak bisa menolak budaya luar. Termasuk kehadiran teknologi modern. Orang tidak bisa mengelak dari kemajuan pesat ini. Maka, perlu diusahakan adalah sebuah pemblokiran hati pada sebuah nilai melenceng.

Orang tidak bisa memblokir situs porno misalnya, kalau hati anak bangsa memang sudah ada potensi menuju ke sana. Orang tidak memblokir semua perusahan rokok, kalau dalam diri anak bangsa ada sebuah potensi untuk mendapatkan itu. Karena potensi diri itu sendiri akan menjadi aktus di kemudian hari. Orang dengan berbagai cara mencari sebuah metode atau cara untuk bisa menerbos nilai demi sebuah potensi yang ada dalam hati.

Ada tiga sikap yang bisa menghambat kemajuan diri. Pertama, xenophobia. Xenophobia berarti anti orang asing. Anti asing berarti anti budaya yang ditawarkan dari sana. Ketertutupan diri merupakan simbol keegoisan diri. Tat kala Orang tidak bisa membuka diri kepada sesama akan menghambat perkembangan individu.

Kedua, xenopholia. Artinya, orang mencintai orang asing. Kecintaan yang terlalu tinggi pada budaya asing juga membuat orang lupa bahwa ada budaya atau rumah sendiri yang harus dikembangkan. Ada rumah sendiri yang menentukan kualitas kehidupan. Rumah kehidupan itu diperluas oleh karena orang enggan masuk ke rumah hati mereka. Budaya asing seolah takaran utama. Takaran utama berarti tidak ada lagi nilai lebih di luar itu.

Ketiga, xenomaniac. Orang maniak dengan budaya asing. Budaya asing seolah-olah membawa orang pada sebuah lupa akan diri. Mengatasi hidup dari sebuah budaya orang lain. Atau dengan lain perkataan, kehidupan itu dipersempit oleh budaya asing itu sendiri. Hidup dipersempit oleh rokok misalnya. Laki-laki yang tidak merokok seolah-olah hilang kelakiannya.

Pendistingsian antara yang artifisial dan essensia. Pencampuradukan kedua hal ini akan membuat hidup ambingsiur. Hidup menjadi kabur. Sesuatu yang semestinya dilihat hanya artifisial, tetapi ditempatkan pada hal yang essensial. Gejalan ini akan menghilangan makna terdalam dari kehidupan. Kecantikan yang dipromosikkan media merupakan sebuah opini publik artifisial.

Bisa saja suatu saat, orang mengatakan bahwa cantik itu kalau perempuan hitam. Atau cantik itu kalau perempuan memakai baju yang sopan. Tetapi ketika kecantikkan dinilai dari sebuah hal artifisial, maka hidup itu juga hanya artifisial saja. Belum terlalu menukik sampai ke jargonnya sebuah persoalan. Kelihaian melihat jantung persoalan menjadi sebuah emblem bagi kemajuan bangsa. Hal yang tambahan semata tidak semestinya dipertahankan sebagai hal esensial. Atau pun aktus membalikkan keduanya.

Kualitas keindahan masih dalam level rendah. Kerendahan tat kala orang hanya memfokuskan suatu hal pada hal yang tidak semestinya menjadi pusat perhatian. Ketika opini publik bisa ditampilkan pada sebuah rahah hidup yang serius, kemungkinan nilai keindahan itu kita tempatkan dalam level rendah juga. Keindahan itu bukan dari kulit luarnya saja, tetapi lebih melihat isi atau kedalaman segala sesuatu.

Sesuatu yang indah berarti bisa melihat intisari atau melihat sebuah centrum. Cantik dan ganteng tidak bisa dilihat dari rambut panjang, kulit putih, punya motor, perokok. Kegantengan seperti itu kualitas sangat rendah. Di dalamnya juga ada indikasi diskriminatif. Layakkah kita mengatakan bahwa perempuan Afrika tidak cantik. Seyogyanya, orang harus bisa menempatkan pada level yang paling tinggi, mendalam, dan menusuk jantung persoalannya.

Budaya meniru sebuah kematian nalar. Suatu steitmen ekstrim. Kalau bercokol pada bibir realitas, pernyataan itu bukanlah muncul tanpa dasar dan ada tanpa pijak. Kematian nalar itu berarti memtuskan pemahaman baru yang berada pada level tinggi dalam sebuah kemapanan pikiran yang picik nan licik, padahal tidak mencerdaskan. Kemartabatan pikiran itu melihat segala sesuatu bukan berdasarkan kulit luarnya saja, tetapi harus bisa menukik pada kedalaman.

Makna terdalam dari sebuah budaya itu harus bisa menumbuhkembangkan sebuah nilai kamanusiaan. Jangan sampai manusia ditempatkan pada level binatang. Hanya manusia yang bisa menilai mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah, mana binatang dan tumbuh-tumbuhan. Bukankah hewan ada karena ada manusia. Maka manusia mengatasi semuanya.

Perendahan kualitas manusia sungguh tidak bisa diterima. Kualitas manusia dinilai oleh mesin dan iklan. Kodrat manusia dinilai dari sebuah struktur pemikiran yang salah dan masih dalam tahap rendah. Maka pemerintah harus bisa melihat inti terdalam sebuah persoalan bangsa. Persoalan utama kemacetan perkembangan Indonesia apa?

Ini yang harus dicari lebih dahulu. Patutlah disyukuri pula, kalau pemerintah harus memerhatikan nilai sebuah budaya bagi perkembangan anak bangsa. Anak bangsa banyak yang tidak tahu menilai kemajuan. Mereka hanya bisa menerima dan mengiktui, sementara menimbang apalagi kritis dan selektif masih di luar jangkauan nalar (editor: kbs)


Eugen Sardono, SMM adalah Montfortan. Penyair Montfortan. Saat ini, sedang menempu pendidikan Filsafat, STF Widya Sasana, Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here