*) Kris da Somerpes

Manusia adalah makhluk yang tak terdefinisikan sekali pun harus diserahkan ke tangan kraeng-kraeng filsuf.

Pernah Kraeng tua Sokrates memberi penjelasan tentang siapa manusia, tetapi selanjutnya diperdebatkan, lalu kraeng Plato mencoba menyoal perihal makna tertinggi keberadaan manusia. Dibantai lagi.

Kraeng Descartes mencoba menyelami esensi atau hakekatnya, Kraeng Kierkegaard dan Kraeng Sarte menohok sisi eksistensi dan ada pula yang berkutat dengan tubuh seperti Kraeng Gabriel Marcel, selanjutnya dan seterusnya.

Sampai suatu ketika disimpulkan, sebagai sebuah kesimpulan yang mentah, bahwa manusia sesungguhnya adalah misteri. Mungkin hanya Kraeng Mori alias Mori Kraeng yang bisa menjelaskannya secara persis dan tuntas.

Kalau kembali ke kraeng manusia, baik itu kraeng Kris saya pikir hasilnya tetap sama. Apalagi otak si Kraeng hanya selebar kerang. Tahu mengapa, lantaran semakin kita menjelaskan tentang siapa itu manusia, semakin kita memasuki lorong gelap ke-takmengerti-an. Ada anekdot di Sekolah Akademia Kraeng Plato perihal ketak-mengerti-an itu.

Salah seorang murid Kreang tua Plato ini yang paling kurang ajar adalah Nana Aristoteles. Ke-kurang-ajaran itu muncul dalam sebuah pertanyaan tentang siapa itu manusia.

Suatu hari  Nana Aristoteles bertanya kepada gurunya, “Pak, saya tanya pak, manusia itu apa sih, apakah seperti pak guru, kumis lebat begitu kah”.

Kraeng tua Plato karena sudah paham sungguh dengan karakter muridnya, kemudian hanya menjawab dengan santai sambil tersenyum “Manusia itu adalah binatang atau hewan yang berkaki dua’’.

Keesokan harinya Nana Aristoteles membawa seekor ayam, lalu memperlihatkan ayam yang ditangkapnya di belakang rumah itu kehadapan gurunya, Kraeng Tua Plato “Pak, Inikah yang pak maksud dengan manusia kah?” 

Sudah barang tentu Kraeng tua Plato terperanjat. Dalam hati kecil Kraeng Plato mengumpat dengan gaya Manggarai yang khas “Enn endeee Mori…tolong, bodok sekali anak ini’.

Agar tidak dibilang sebagai guru yang bodoh, Plato kemudian mere-definisi manusia. Kata Plato kepada Nana Aristoteles  “Teles, hei Teles, sini kau, bawa dengan itu ayam. Dengar baik-baik e, manusia itu adalah hewan berkaki dua dan tidak berbulu. Yang kau bawa ini kaki dua tapi berbulu”

Mendengar jawaban gurunya, Nana Aristoteles pun tidak kehilangan akal walau dalam hati kecilnya sebenarnya dia bingung “Pak guru ini aneh, dia punya muka itu berbulu ngeri. Tapi kenapa dia menyangkal. Eih mungkin ini kraeng tua sudah tua”.

Keesokan harinya ia kembali ke Akademia dengan membawa ayam yang sama tetapi dengan bulu-bulu yang sudah dicabuti. Kemudian ia memperlihatkan lagi ke hadapan Pak Plato.

Nana Aristoteles kembali bertanya sambil menunjukkan ayam gundul itu “Pak, pak…apakah ini yang pak guru maksud dengan manusia kah. Ini sudah tidak berbulu?”

Pertanyaan terakhir itu tidak lagi dijawab Kraeng Tua Plato sampai hari ini. Entah apa reaksi Plato pun tidak tercatat dalam sejarah filsafat. Demikian juga dengan ayam gundul itu. Apakah nana Aristoteles menggoreng atau membakarnya, juga tidak tercatat. Misteri.

Mungkin inilah sejatinya manusia. Manusia adalah misteri. Sebuah konsep gelap yang sesak dengan tanya. Semakin anda bertanya semakin selalu menemukan jawaban yang melahirkan tanya.


Kris da Somerpes, sekarang sedang belajar menulis di Komunitas Kopi Sastra Akhir Bulan Labuan Bajo Manggarai Barat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here