*) Kris da Somerpes

“Aku dilahirkan sebagai seorang anak perempuan katolik pada 28 Oktober 1938, pukul empat lewat tujuh menit sore, di kota kecil Belanda bernama Tilburg. Kelahiranku merupakan pengalaman pertama bagi mamaku dan adalah pengalamannya paling buruk. Kehadiranku ke dunia adalah pengalaman dosa asal pertamaku, artinya aku terlalu jahat untuk dikecup sampai setelah pembabtisan”

Demikian tutur seorang pelacur membuka pengakuan ‘dosanya’ dalam God’s Callgirl (yang di-Indonesiakan menjadi Sang Pelacur Tuhan oleh Voila Books: 2004). Selanjutnya, sepanjang lima ratusan halaman tulisannya akan dijumpai runtutan peristiwa nyata yang menarik tapi mengharukan.

Dialah Carla van Raay anak seorang tentara yang tegap-tampan dan seorang ibu yang selalu mengeluh berat badan bertambah. Ketika masa kanak-kanak, Carla tumbuh dengan ceria. Ia juga lucu. Namun suatu ketika dalam usianya yang masih kanak-kanak pula, Carla kecil terjebak dalam nafsu bejat sang ayah, orang yang paling dipujanya. Keperawanan telah diambil dari ketidaktahuan masa kanak-kanaknya. Lantaran itu, Carla tumbuh dalam dusta, karena peristiwa hitam itu dibungkamnya.

Rasa tidak dapat dipendam, apalagi jika setiap detik meronta-bergejolak. Pada usia 12 tahun Carla hijrah ke Australia membawa serta derita yang sudah menjadi ‘cacat pusaka’.  Di usia 18 tahun, Carla mencoba mencari celah keluar biar derita sedikit tertumpah. Ia masuk biara dan menjadi seorang biarawati. Dari balik jubahnya yang santun, setiap saat ia mengadu kepada Tuhan. Namun, Tuhan bagai tiada, jiwanya pun terus bergejolak. Rentangan 22 tahun dalam biara bagai mendekam dalam sangkar yang sempit. Akhirnya Carla pun memilih untuk ‘bebas’. Ia meninggalkan kehidupan membiaranya, ketika itu usianya menginjak 31 tahun.

Namun bagai menegakkan benang basah, kebebasan yang diraihnya roboh seketika. Bahtera rumah tangga yang dibangunnya bersama si tukang listrik James akhirnya kandas juga. Yang tersisa hanya selapis derita di wajah kehidupan Caroline putri mereka yang masih belia. Sudah sejak itu selapis demi selapis duka menumpuk, meninggi. Carla tak dapat mengelak, rasa itu pun akhirnya meledak juga di Stella Exchort Agency, sebuah rumah bordil berkedok agen pelayanan jasa.

Di sana, di Exchort Carla menjadi perempuan yang berbeda. Ia menjadi bebas bukan hanya untuk dirinya sendiri yang bebas, tetapi juga demi kebebasan itu sendiri. Tidak ragu-ragu ia bertelentang telanjang di atas ranjang walau dengan dada yang berdebar-debar. Carla akhirnya menjadi terbiasa untuk pulas di balik dekapan setiap lelaki hidung belang. Jiwanya yang resah tak lagi bergejolak. Walau mungkin nyeri itu tetap ada. Tetapi kebebasan yang yang didapatnya adalah kebebasan. Sebuah anugerah Tuhan yang paling nikmat. Carla pun menyadari kalau dirinya adalah seorang ‘Pelacur Tuhan’ yang disebutnya sebagai esensi dari ekspresi kesungguhan hidup dan kehidupan.

“Pelacur ‘Tuhan’ berbahagia” tuturnya lebih lanjut “Dengan para klienku apa yang sering kali tak tercapai dalam sebuah pernikahan: sebuah kehidupan di mana esensiku yang paling dalam menemukan ekspresi. Aku adalah dewi yang diberkati yang mengambil madu dari ‘Tuhan’-nya dalam bentuk banyak pria” (hal. 446)

Demikanlah kisah nyata seorang Carla van Raay, sang Pelacur ‘Tuhan’. Kebebasan yang diperolehnya telah sanggup menghapus luka lama, termasuk kebejatan sang ayah yang pernah mencipratkan setitik noda di wajah kehidupannya. Kebejatan itu dimaafkannya dengan tulus, dan Carla pun menganggapnya sebagai berkah yang tak terkira. Kebejatan itu dibasuh dengan kata-kata maafnya yang santun di akhir pengakuannya.

“…Kau kini mati, dan itu tak mengapa.Tak mengapa kau mencintai sebaik yang kau ketahui dan tak bisa memenuhi harapanku. Tak apa-apa. Kini kau adalah malaikat istimewaku, aku haturkan terima kasihku padamu, papa tercinta” (hal. 585)

Air mata jatuh membasahi halaman terakhir pengakuannya yang mengharukan. Tidak hanya kejujuran yang telah terungkap, tetapi lebih dari itu Carla telah mempertaruhkan keberaniannya. Kejujuran dan keberaniannya telah membawa pergi Carla dalam kehidupan yang berbeda, kehidupan yang dipilihnya dengan bebas, menjadi sang Pelacur ‘Tuhan’.

Namun buat kita, rupa-rupanya kita tidak dapat mengukur kejujuran dan keberanian Carla hanya dengan membaca secara tuntas pengakuannya yang tertuang dalam God’s Callgirl-nya. Belajar dari Carla dalam menutur kisah, kita belajar menyembul fakta dengan jujur, terbuka dan berani. Mungkin pengalaman kita lebih kelam dan dahsyat. Di hadapan keengganan kita untuk menyingkap selubung ketakutan, God’s Callgirl menitip pesan buat kita.

“Jangan membuang setiap kisah ke kotak masa lalu. Bangunkan pena, telentangkan kertas, tuangkan rasamu dengan jujur dan berani. Setiap kata yang kau tulis mungkin akan terasa nyeri, mendebarkan atau bahkan membuahkan air mata. Tapi jika di ujung penamu kau lecutkan sebuah tulus, sudah mungkin kisah yang kau tutur akan mengejutkan. Hanya kekaguman yang terlontar dari benak pembacamu ‘kejujuran itu menakutkan’ sebagaimana sang ‘Pelacur Tuhan’ telah membuktikannya”

Tentang pesan ini, kita bisa mengawalinya dengan menulis catatan harian. Menumpahkan semua kisah yang paling menggembirakan sekaligus paling mengejutkan dalam keseharian perjumpaan kita dengan realitas. Kita bisa memulainya dengan hal-hal yang paling kecil. Dan semua hal itu bisa menumpuk menjadi sebuah buku. Bagi kita mungkin adalah aib, tetapi bagi pembaca adalah berkat. Bukankah pepatah ini selalu kita dengar, bahwa pengalaman adalah guru terbaik? Yuk mari menulis.

*) kbs adalah singkatan dari Kris da Somerpes, sekarang sedang belajar menulis pada Komunitas Kopi Sastra Akhir Bulan Labuan Bajo Manggarai Barat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here